Archive for Pendidikan

Amanah (versus) Tanggung Jawab ….

Bismillahirrahmannirrahim

Tulisan dari Mbak Ratna Wardani .. cukup mengingatkan saya dengan makna dari “Amanah & Tanggung Jawab” …

Berikut tulisan dari beliau ..

Lika Liku Studi S3 (cuplikan momen-momen Serius, Senang, Sedih)
by Ratna Wardani on Sunday, November 27, 2011 at 1:09am

Part #3 : “ my guru my inspiration ….”

Menuliskan kembali wejangan sang guru beberapa waktu lalu menjelang ujian terbuka (dengan gaya saya):

“esok .. setelah gerbang itu dibuka, engkau bukanlah sbg muridku lagi .. engkau akan berdiri sbg pribadi yang berbeda .. pribadi yg memiliki tanggung jawab yang lebih besar. tebarkan ilmu yg diperoleh untuk kemanfaatan orang-orang di sekitarmu. Gunakan ‘pedangmu’ scr bijaksana dalam menghadapi berbagai masalah yang menghadang…jadilah ‘petarung’ yang mandiri, yang berkembang dan berkarya di jalanmu dan dengan caramu … dan rasakan keindahannya ketika apapun yg kau lakukan dilandasi dg hati …”

Sang guru benar … sebentar lagi saya harus melangkah sebagai diri saya sendiri … menjadi pribadi yang kuat, mandiri dan menggunakan potensi yang saya miliki untuk bisa berkiprah di bidang saya, memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar saya … menjadi lilin yang terang, tidak menyilaukan, tetapi bisa memberikan cahaya yang mengusir kegelapan …”.

Baca lanjutannya yuk … 😉

Advertisements

Comments (4) »

Never Give Up ….

Bismillahirrahmannirrahim
Pernah terlintas … menyerah sampai sini saja … sembari berdamai di hati membenarkan keputusan ini … “Di alam barzah nanti gak bakal diminta ijazah kuliah/di tanya kamu lulusan mana kok … sama Allah SWT.

Tapi … setelah flash back dari awal sampai detik ini … bagaimana perjalanan sampai kesini … pengorbanan & perjuangan yang sudah dilakukan … serta terbayang wajah orang2 yang sudah mendukung, yang memberi doa setiap saat, serta pengorbanan mereka selama ini …. rasanya seperti egois sekali diri ini …

… dan sampai akhirnya … saya membaca notes yang ditulis oleh Dosen Pembimbing saya Bapak Lukito Edi Nugroho di Facebook beliau … saya jadi malu sendiri & mulai termotivasi kembali …

… saya minta izin ke Pak Lukito … untuk men-share postingan beliau ke blog saya … mungkin bisa membantu teman2 & mahasiswa lain … yang mempunyai pola pikir seperti saya

Berikut artikel yang Pak Lukito tulis … 

Mahasiswa : Bagaimana Anda Mengatasi Problem ?

Catatan ini saya dedikasikan kepada para mahasiswa yang sedang berjuang menyelesaikan studinya di tengah berbagai problem berat yg menghadang …

Kebanyakan dari kita melihat problem-problem belajar di universitas simply sebagai problem-problem akademis. Tugas yang menumpuk, ujian yang sulit, dosen yang sulit ditemui, dsb. Problem-problem itu terkadang memang berat, tapi bagaimanapun itu selalu ada solusi yang relatif mudah. Tugas yg menumpuk bisa diatasi dgn manajemen waktu yang baik. Ujian yg sulit menjadi mudah kalau rajin belajar. Dosen sibuk bisa ditunggui dengan sabar.

Kadang kita tidak sadar ada sebagian mahasiswa yang mengalami problem yang lebih berat. Saya katakan lebih berat karena problem-problem yang mereka hadapi biasanya lebih “akut” dan berjangka panjang, serta bersifat “sistemik” (maksudnya, bisa menyebabkan efek domino dan menciptakan problem-problem lain, termasuk problem akademik). Faktor gangguan kesehatan, kondisi ekonomi, dan ketidakstabilan mental/psikologis adalah beberapa contoh problem non-akademis yang sering muncul di kampus. Efeknya, mahasiswa akan melihat problem yang bertumpuk-tumpuk, saling terkait, dan seolah tidak ada ujung pangkalnya sehingga sulit mencari solusinya. Kadang-kadang mahasiswa tidak kuat menahan beban seberat ini, dan akhirnya kolaps. Mereka jatuh dan tidak bisa bangun lagi. Mereka gagal.

Baca lanjutannya yuk … 😉

Comments (2) »

Negeri 5 Menara | A. Fuadi …

Bismillahirrahmannirrahim


…. “Beberapa orang tua menyekolahkan anak ke sekolah agama karena tidak punya cukup uang. Ongkos masuk madrasah lebih murah ….”

Kecurigaanku benar, ini masalah biaya. Aku meremas jariku dan menunduk melihat ujung kaki.

“…. Tapi lebih banyak lagi yang mengirim anak ke sekolah agama karena nilai anak-anak mereka tidak cukup untuk masuk SMP atau SMA ….”

“Akibatnya, madrasah menjadi tempat murid warga kelas dua, sisa-sisa …. Coba waang bayangkan bagaimana kualitas para buya, ustad dan dai tamatan madrasah kita nanti. Bagaimana mereka akan bisa memimpin umat yang semakin pandai dan kritis ? Bagaimana nasib umat Islam nanti ?” ….

Itu sepenggal dialog yang saya kutip dari halaman 7 dari buku Negeri 5 Menara | Sebuah Novel Best Seller yang terinpirasi dari kisah nyata penulis A. Fuadi ….

“Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, ….” ( QS : Alam Nasyr : 7 )

“…. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” ( QS : Alam Nasyr : 8 )

Man Jadda Wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, akan berhasil).”

Rekomendasi buat dibaca …

Comments (12) »

Trailer “Alangkah Lucunya (negeri ini)” …

Bismillahirrahmannirrahim

Sinopsis :

Sejak lulus S1 Manajemen, hampir 2 (dua) tahun Muluk belum mendapatkan pekerjaan, meskipun selalu gagal, ia tak pernah putus asa mencari kerja. Pak Makbul – Ayah Muluk, selalu membanggakan anaknya dan meyakinkan pentingnya pendidikan kepada kawan akrabnya sejak dari pesantren bernama Haji Sarbini, yang selalu merasa pendidikan tak terlalu penting … dalam keseharian mereka topik ini selalu menjadi “Menu” utama …

Pertemuan dengan pencopet – bernama Komet, tak disangka membuka peluang kerja bagi Muluk. Komet membawa Muluk ke markasnya, lalu memperkenalkannya kepada sang Boss – bernama Jarot. Muluk kaget ketika tahu ternyata di markas itu berkumpul anak-anak seusia Komet, yang kerjanya hanya mencopet.

Jarot – sang Boss, dengan penuh curiga mengintrogasi Muluk dan akhirnya menganggap Muluk cukup bisa dipercaya, hingga Jarot menerangkan bahwa dia membagi anak asuhnya dalam tiga kelompok copet : copet mall, copet pasar, dan copet angkot.

Akal Muluk berputar dan ia melihat adanya peluang, kemudian ditawarkannya kerjasama kepada Jarot. Ia memberi keyakinan kepada para pencopet bahwa sebagai Sarjana Manajemen ia dapat mengelola keuangan mereka, dan meminta imbalan 10% dari hasil nyopet anak-anak itu, termasuk biaya mendidik mereka.

Awalnya gagasan ini ditentang habis oleh para pencopet termasuk Jarot, namun dengan “Presentasi” yang menarik dan cukup masuk “Akal”, mereka menerima lamaran Muluk sebagai “Manajer” mereka.

Hari berlalu, Muluk mulai mengelola “Usaha” barunya …  Pak Makbul – Ayah Muluk, senang melihat anaknya sudah bekerja. Apalagi, seperti pengakuan Muluk, ia bekerja di bagian SDM (Sumber Daya Manusia). Pak Makbul segera memberitahu Haji Sarbini, Ayah Rahma, calon besannya.

Comments (8) »

Theatrical Trailer “New York” …

Bismillahirrahmannirrahim

Film “New York” menceritakan sebuah kisah kontemporer persahabatan  yang lebih besar dari latar belakang kehidupan kota yang sering digambarkan sebagai pusat dunia. Omar (Neil Nitin Mukesh) pergi ke luar negeri untuk pertama kali dalam hidupnya dan tidak lama kemudian ia mulai melihat dan mencintai Amerika melalui mata-Nya, Teman-teman Amerikanya – Sam (John Abraham) dan Maya (Katrina Kaif).

Ini adalah cerita ketiga teman menemukan dunia baru bersama-sama. Tapi suatu hari dunia di sekitar mereka berubah … hidup indah mereka dibongkar oleh kejadian yang lebih besar di luar kendali. Bagi sebagian besar dari kita, peristiwa-peristiwa besar di dunia hanya berita utama di koran-koran tetapi peristiwa-peristiwa ini dapat mengubah hidup kita … selama-lamanya.

Pada akhirnya masuklah Agen Roshan (Irrfan), FBI agen rahasia yang menentukan bola menggelinding untuk serangkaian gejolak peristiwa yang mengubah kehidupan mereka menjadi berbahaya dan mendebarkan bagaikan roller coaster.

Saya mencoba mengutip dialog percakapan dari Agen FBI Roshan (Irrfan) & Omar (Neil Nitin Mukesh) di penghujung film :

Agen FBI Roshan (Irrfan)  : Sampai Kapan kau tak mau bicara denganku?
Omar (Neil Nitin Mukesh) : Selamat, aku baca di koran kau mendapat penghargaan.

……………….

Omar (Neil Nitin Mukesh) : Apa hasil dari operasi rahasia itu? Dua kawanku telah meninggal dan kau mendapat medali penghargaan lagi. Tapi apa hasilnya? Bila kau punya jawaban untuk pertanyaan itu … maka kita berbincang-bincang.
Agen Roshan (Irrfan) : Jawaban ada didepanmu, Omar …. Kita harus lupakan semuanya dan terus maju. Ini saat yang sulit …..

Rekomendasi buat ditonton ..

Comments (39) »

Surat dari Tahun 2070 …

Bismillahirrahmannirrahim

Ini file presentasinya … 

Semoga tidak terjadi ya … (Amin .. Yaa Allahumma Amin) 


Comments (16) »

Civitas Akademik …

Bismillahirrahmannirrahim

Sebelumnya saya sudah minta izin terlebih dahulu untuk “copas .. notes yang ditulis di Facebook oleh Dosen sekaligus Pembimbing Thesis saya Bapak Lukito Edi Nugroho .. Alhamdulillah izin saya di approve (Matur Nuwun Sanget ya Pak .. Semoga tulisan Bapak bermanfaat … khususnya buat civitas akademik di Indonesia … Amin)

Ini artikel yang Pak Lukito tulis …

Autis? No Way …

Dalam beberapa kesempatan akhir-akhir ini saya banyak mendengar kritik sekaligus harapan buat mahasiswa. Sewaktu di PT Pusri, bapak-bapak di sana mengatakan bahwa mahasiswa sekarang pintar-pintar tetapi kurang soft-skillnya, sehingga saat nyemplung di industri banyak menghadapi masalah-masalah non-teknis. Dan tadi siangpun dalam rapat kerja fakultas beberapa orang mengungkapkan bahwa banyak mahasiswa yang asyik dalam dunianya sendiri, tidak melihat apalagi mengejar apa yang terjadi di luar sana. Saya menimpali, “Ya .. betul. Mereka banyak yang *autis*…”

Mengapa banyak mahasiswa yang autis? Mengapa hanya asyik dengan studi saja, dan belajarnyapun dengan usaha yang mediocre alias “biasa-biasa saja”? Mungkin karena ingin cepat lulus, lalu kerja, dapat penghasilan. Mungkin karena studi di perguruan tinggi itu enak karena mudah — kalau tidak kebangetan sekali, semua pasti lulus. Mungkin takut berkompetisi atau takut mencoba hal-hal baru di luar kehidupan rutin. Dan mungkin masih banyak lagi penyebab-penyebab lainnya …

Padahal … andaikan saja mahasiswa tahu … ada banyak sekali hal yang menarik di luar sana. Ada banyak sekali mutiara pengetahuan dan pengalaman yang sangat berharga di luar kampus kita. Contohnya banyak, misalnya mengenal dan merasakan kehidupan organisasi. Atau hidup di lingkungan asing (misalnya, di luar negeri). Atau mengerti suasana industri dan proses-proses yang terjadi di dalamnya. Atau bekerjasama dengan orang-orang dengan tata nilai, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda. Atau bahkan pengalaman berdiskusi dan berargumentasi secara ilmiah di forum seminar dan workshop.
Monggo di baca lanjutannya .. 😉

Comments (6) »